Welcome to my Blog. "Diceritakan bahwa 'Umar bin al-Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-'Asy'ary, "Segala kebaikan terletak di dalam keridlaan. Maka jika engaku mampu, jadilah orang yang ridla; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar." "Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimana kesabaran kita"

Jumat, 12 Mei 2023

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2

 Silahkan Klik Link dibawah :

3.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.2 

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2

 Pemimpin dalam pengelolaan 
Sumber Daya

Oleh
Muhammad Sholikhuddin SMP Negeri 1 TURI
CGP Angkatan 7 Kab. Lamongan

HASIL ANALISIS VIDEO :

Visi sekolah tempat guru dalam video tersebut adalah “Mewujudkan Murid Mandiri, Kreatif, Kolaboratif dengan lingkungan belajar nyaman dan menyenangkan.” Adapun prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut yaitu “Mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.” 

 Adapun tahapan BAGJA yang dilakukan oleh guru tersebut adalah sebagai berikut:

 

1.  Buat Pertanyaan Utama

Pada tahap ini pertanyaan utama yang dimunculkan adalah “Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar?”

Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah 1) berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam merumuskan kalimat pertanyaan utama prakarsa perubahan, 2) membuat pertanyaan pemantik kepada siswa tentang kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi mereka, 3) membuat pertanyaan yang ditulis di papan tulis”Penyemangat Belajar.”

 

2.  Ambil Pelajaran

Pada langkah ini guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa sebagai berikut:

·      “Apa yang muncul dari pikiran kalian terhadap tulisan Penyemangat Belajar”

·      “Apa yang disukai dari kelas ini?”

·      “Kelas mana yang sudah berhasil membuat kelas yang nyaman dan menyenangkan untuk belajar.” Pertanyaan ini terjawab adanya langkah dan tindakan berupa mengajak siswa untuk observasi ke kelas 2 dan kelas 6

·      “Apa yang disukai oleh siswa kelas 2 dan 6 terhadap kelasnya?”

Tindakan yang dilakukan guru pada tahap ini adalah 1) menanggapi jawaban siswa saat guru bertanya tentang penyemangat belajar, 2) menanggapi jawaban siswa yang disukai dari kelas tersebut, 3) mengajak siswa melakukan berkunjung ke kelas dua dan enam dengan membagi siswa menjadi empat kelompok, 4) melakukan diskusi dengan siswa atas  hasil kunjungan kelas tentang apa yang disukai dan alasannya.

3.  Gali Mimpi

Pada langkah di vidio ini guru mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

·      Kira- kira kelas seperti apa yang nyaman dan menyenangkan serta menjadi penyemangat dalam belajar?”

·      Kelas seperti apa yang kalian impikan?”

·      Gambarkan kelas yang nyaman dan menyenangkan yang dapat menjadi penyemangat belajar!”

Tindakan yang dilakukan guru pada tahap ini antara lain : 1) meminta ketua kelompok mengambil alat dan bahan, 2) meminta siswa untuk memejamkan mata dan meminta untuk membayangkan kelas seperti apa yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menjadi penyemangat dalam belajar, 3) meminta siswa secara berkelompok untuk menggambarkan kelas yang nyaman dan menyenangkan serta menjadi penyemangat belajar, 4) Melakukan presentasi kelas impian dari masing – masing kelompok, 5) Guru mencatat informasi kelas impian dari siswa yang presentasi.

 

4.  Jabarkan rencana

Pada langkah ni guru mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

· Apa yang akan kita lakukan untuk membuat kelas impian?

· Apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan kelas impian?

Tindakan yang dilakukan guru pada tahap ini antara lain:  1) berkolaborasi dengan siswa untuk berkontribusi dalam mewujudkan kelas impian, 2) melakukan kegiatan diskusi dengan siswa, 3) mengiventarisir usulan siswa tentang kelas impian

 

5.  Atur Eksekusi

Pada langkah ini guru mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

·      Kapan waktu yang tepat untuk memulai mewujudkan kelas impian?

·      Bagaimana kalau mulai besok kita mulai melaksanakannya?

Tindakan yang dilakukan guru pada tahap ini antara lain: 1) membentuk empat kelompok kerja dengan tugas yang ditetapkan, 2) memberikan semangat dan motivasi kepada siswa bahwa kita pasti bisa.  3) membagi tugas kelompok terdiri dari membersihkan kelas, membuat hiasan dinding, menyusun bangku dan menyusun buku. 4) Melakukan kegiatan pembersihan kelas, menata bangku dan meja, memasang hiasan di dinding dan menata buku.  5) guru memberikan apresiasi kepada siswa setelah selesai membuat ruang kelas menjadi nyaman dan menyenangkan. Pada tahap ini yang terlibat adalah guru, siswa kelas tersebut dalam mewujudkan kelas impian. 

Pada tahapan BAGJA, guru sebelumnya berkomunikasi dengan rekan sejawat untuk membuat program kelas impian kemudian guru mengkomunikasikan program yang dibentuk kepada murid dengan memfasilitasi murid untuk melakukan kunjungan ke kelas 2 dan 6 yang kelasnya sangat menyenangkan.  Harapan siswanya berkunjung ke kelas agar mendapat gambaran kelas seperti apa yang diimpikan.  Ketika melakukan aksi guru sangat memberikan semangat kepada siswa untuk mewujudkan kelas impian.

 

 

Peran guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah seorang MANAJER dengan melakukan kegiatan seperti berikut:

a.    Melakukan perencanaan, guru membuat rencana prakarsa perubahan mewujudkan kelas impian

b.    Berkolaborasi, guru berkolaborasi dengan rekan sejawat yang sudah menerpkan kelas inspirasi atau impian

c.    Membagi tugas, dengan melakukan pembagian tugas kepada siswa dalam mewujudkan kelas yang nyaman dan menyenangkan

d.    Menggerakkan, dengan memfasilitasi murid untuk berkunjung ke kelas 2 dan 6 yang sudah menjadi kelas inspirasi

e.    Mengawasi, saat melakukan aksi nyata dalam menghias kelas

 

Guru juga sudah menunjukkan keperpihakan pada murid diwujudkan dengan adanya diskusi dalam pengambilan keputusan.  Pada video tersebut guru juga menggunakan cara pandang dan pendekatan berbasis asset atau kekuatan  hal ini terlihat dari kemampuannya fokus pada asset dan kekuatan yang ada pada kelas yang diampunya.  Guru juga mampu mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya yang ada dan membuat rencana berdasarkan visi dan kekuatan yang dimilki.  Hal ini terlihat dari aksi nyata yang dilakukan dalam mendorong murid untuk mewujudkan kelas yang nyaman, menyenangkan dan mampu penyemangat belajar. 

 

 

Modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalam video tersebut antara lain:

a.    Modal manusia

·      Guru yang mempunyai kreativitas dan inovasi untuk memotivasi siswa mewujudkan kelas nyaman, menyenangkan dan menjadi penyemangat belajar

·      Siswa yang kreatif, mandiri dan berkolaborasi dalam mewujudkan kelas impian.

b.    Modal sosial

·      Pada video tersebut terlihat hubungan social guru dengan rekan sejawat dalam membuat program kelas impian

·      Hubungan sosial yang baik antara siswa di kelas tersebut dengan sesamanya, dengan siswa kelas 2 dan kelas 6 saat melakukan kunjungan.

c.    Modal fisik

·      Ruang kelas yang dindingnya kurang rapi diubah menjadi sebuah ruang kelas yang indah dengan penataan hiasan dinding yang apik.

·      Lingkungan sekolah yang asri untuk pembelajaran

·      Lapangan atau halaman sekolah yang dimanfaatkan untuk bermain

d.    Modal lingkungan alam

·      Terlihat dari kegiatan menghias kelas dengan menggunakan bahan dari alam berupa kertas

e.    Modal finansial

·      Dukungan dari guru, dalam menyediakan peralatan dan bahan yang diperlukan dalam menghias kelas sehingga terwujud kelas yang nyaman, menyenangkan dan mampu menjadi penyemangat belajar

 

f.     Modal agama dan budaya

·      Budaya 5 S, (salam, senyum, sapa, sopan santun)

·      Sikap saling menghormati dan menghargai antara murid dan guru, murid dengan murid dan guru dengan guru.

 

  

Jalur komunikasi dan rutinitas pengelolaan adalah sebagai berikut:

 

 

 

Rabu, 26 April 2023

3.1.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin 


Tujuan Pembelajaran Khusus: 
  1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media. 
  2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya. 

Kegiatan Pemantik: 
Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya: 
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” 
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). 
Bob Talbert Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini? 
Jawaban : Menurut saya kaitan kutipan di atas dengan proses pembelajaran yang sedang saya pelajari saat ini yaitu mengenai permasalahan dilema etika, dimana sebagai seorang guru kami seringkali mengalami dilema dalam pembelajaran, antara mengedapankan materi atau nilai dari sebuah materi melalui pendidikan karakter. 

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita? 
Jawaban : nilai-nilai dalam suatu pengambilan keputusan yang saya pegang yaitu pengambilan keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid. Hal tersebut juga diharapkan dapat memberikan dampak positif untuk lingkungan sekolah yaitu terciptanya lingkungan yang aman,nyaman,tanpa adanya perselisihan. 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda? 
Jawaban : Sebagai pemimpin pembelajaran maka kita harus dapat menuntun murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat yang dimiliki sehingga murid akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan dalam pembelajaran harus mengutamakan kebutuhan belajar murid,yang dapat dilaksanakan melalui pembelajaran berdiferensiasi. 

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda. Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. ~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~ 
Jawaban : Pembelajaran pada Modul 3.1 ini memberikan pengetahuan bagaimana cara mengambil sebuah keputusan yang berupa dilema etika atau bujukan moral, dengan memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab, dan berpihak pada murid. Kutipan tersebut merupakan dilema etika yang dapat diputuskan melalui 9 langkah pengujian pengambilan keputusan pada kasus dilema etika 


 "PERTANYAAN" 

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? 
Jawaban : Pratap Triloka yaitu Ing ngarsa sung tuladha mempunyai arti bahwa seorang guru harus dapat memberikan contoh yang baik bagi muridnya ini berarti guru harus dapat mengambil sebuah keputusan yang bijak untuk dapat dijadikan tauladan, disaat murid ataupun guru sendiri mengalami sebuah masalah dilema etika diharapkan keputusan yang diambil merupakan sebuah keputusan yang bijaksana dengan menerapkan tahapan-tahapan pengambilan keputusan sehingga dapat dijadikan tauladan dan juga motivator bagi muruid maupun rekan guru lainnya. 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? 
Jawaban : Nilai-nilai positif yang ada pada diri seorang guru antara lain yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid, merupakan nilai dasar yang harus ada dalam diri seorang guru. Nilai-nilai positif tersebut akan berpengaruh saat kita dihadapkan dalam pengambilan sebuah keputusan. 

Bagaimana kita menentukan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan juga 9 tahap pengujian dan pengambilan keputusan. Disaat kita dihadapkan dengan sebuah dilema etika seorang guru juga harus mempunyai rasa empati kepada muridnya. Dengan didasari nilai-nilai positif tersebut dapat mengarahkan kita terhadap keputusan dengan resiko yang kecil dan juga sebuah keputusan yang berpihak pada murid. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya. 
Jawaban : Coaching merupakan sebuah keterampilan yang sangat erat kaitannya dengan pengabilan keputusan. Menerapkan coaching dengan Teknik TIRTA merupakan Langkah yang paling ideal saat kita membantu orang lain, dalam hal ini masalah di lingkungan sekolah. Tahapan-tahapan dalam TIRTA dapat mengidentifikasi masalah dari coachee. Coaching merupakan hal yang sangat penting, karena guru yang berperan sebagai coach dapat menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggali dan menemukan potensi yang terpendam dalam diri murid ( coachee ) untuk dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya dengan kekuatan sendiri serta mampu mengambil keputusan yang tepat. Teknik TIRTA jika dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan akan menjadi sangat ideal dalam pengambilan keputusan. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya untuk lebih mamahami coaching, serta membimbing saya berlatih coaching dengan menerapkan model TIRTA dengan memberikan masukan-masukan untuk lebih baik lagi. 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 
Jawaban : Sebagai seorang pendidik kita harus dapat memenuhi kebutuhan individu setiap murid. Adanya perbedaan dalam kesiapan belajar, minat, maupun profil belajar murid menjadi tugas seorang guru untuk dapat membuat keputusan yang tepat agar semua kebutuhan murid dapat terakomodir. Kompetensi sosial dan emosional yang baik yang dimiliki oleh seorang guru yang dapat sangat diperlukan saat pengambilan keputusan, oleh karena itu guru harus selalu menerapkan mindfullnes atau kesadaran penuh sehingga guru selalu berpikiran positif dans aat proses pengambilan keputusan akan berdasarkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 
Jawaban : Seorang pendidik saat dihadapkan dengan masalah dilema etika ataupun bujukan moral dilingkungan sekolah, dalam pengambilan keputusan akan terpengaruh pada nilai-nilai yang dianutnya. Pendidik harus berpihak pada murid dan selalu mengutamakan kepentingan murid dan mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Kesadaran penuh atau self awareness sangat diperlukan pendidik dalam menganalisis setiap kasus atau permasalahan yang terjadi apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Jika kasus tersebut merupakan bujukan moral, sebagai pendidik harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang dianutnya. 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
Jawaban : Pengambilan keputusan yang tepat merupakan hal yang sangat penting. Pada pengambilan keputusan yang tepat akan menuju suatu perubahan yang kearah yang lebih baik, sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tetapi jika terjadi kesalahan dalam pengamblan keputusan akan berdampak sabaliknya. Dalam melakukan pengambilan keputusan hendaknya selalu berpedoman pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam proses pengujian dan pengambilan keputusan. Jika dalam pengambilan keputusan dilakukan melalui proses analisis kasus yang cermat dan juga menerapkan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan, maka keputusan tersebut sedikit banyak akan mampu mengakomodir kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, dengan demikian akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 
Jawaban : Kesulitan yang muncul antara lain untuk mengubah mindset dari warga sekolah untuk menuju paradigma berpihak pada murid. Keputusan yang diambil kadang tidak bisa serta merta dirasakan perubahannya seketika itu juga namun ada proses yang harus dilalui sehingga hasilnya dapat terwujud. Sosialisasi dan menjalin komunikasi secara intensif sangat diperlukan untuk merubah paradigma lama sehingga warga sekolah dapat memahami perubahan dan mampu beradaptasi. Pengambilan keputusan untuk menuju perubahan perlu terus dilakukan sehingga dapat menjadi budaya positif di lingkungan sekolah dan tetap berdasar pada visi dan misi sekolah. 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? 
Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 
Jawaban : Pengambilan keputusan yang kita ambil akan dapat mempengaruhi cara pengajaran kita kepada murid. Jika keputusan tersebut berisi tentang metode dalam pengajaran maupun sistem penilaian yang sesuai dengan kebutuhan murid maka dapat dikatakan keputusan tersebut merupakan keputusan yang berpihak pada murid, dan sebaliknya jika keputusan tersebut tidak memberikan ruang bagi murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat mereka maka keputusan tersebut tidak berpihak pada murid. Keputusan yang diambil hendaknya merupakan keputusan yang dapat memberikan murid untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya baik kodrat alam maupun kodrat zaman dan sebagai bentuk dalam menuntun murid menuju merdeka belajar. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid untuk dapat mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Sehingga murid dapat belajar mandiri bagaimana mereka dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 
Jawaban : Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil sebuah keputusan, harus benar- benar memperhatikan kebutuhan individu setiap murid. Guru diibaratkan sebagai seorang petani yang menanam dan memelihara benih. Jika petani memutuskan memelihara dengan baik makan benih akan tumbuh dengan biak pula namun jika petani seenaknya saja memelihara tanpa melihat kebutuhan benih tersebut untuk tumbuh makan benih tidak akan tumbuh subur. Maka dari itu keputusan yang kita ambil harus mempertimbangkan kebutuhan murid bagaimana kita dapat menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya yang diawali dengan pemetaan kebutuhan mereka dengan memperhatikan minat belajar, kesiapan belajar, dan profil belajar murid. Dengan demikian keputusan yang kita ambil akan mempengaruhi masa depan murid kita kelak. 

Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? 
Jawaban : Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah: Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru dan harus berlandaskan pada filosofi KI Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfulness) untuk menghantarkan murid menuju profil pelajar pancasila. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema erika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan masalah agar keputusan yang diambil berpihak pada murid untuk mewujudkan merdeka belajar. 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? 
Jawaban : Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran atau benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang merah antara keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilemma etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus antara bujukan moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil. 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? 
Jawaban : Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah mengalami masalah yng berhubungan dengan dilemma etika. Keputusan yang saya mbil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya atau berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang dan juga berdasarkan kepedulian kepada orang lain. Sehingga ketika saya mempelajari modul 3.1, saya merasa care based thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang diapakai secara umum dalam mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan masalah dilemma etika. Sedangkan untuk kasus bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun ketika itu terjadi saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan dengan meminta secpnd opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman aytau sebagai panutan saya. Walaupun langkah pengambilan keputusan saya tidak sama persis seperti konsep yang saya pelajari di modul namun ada usur kesamaan yaitu menganalisis unsur kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola. 

Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? 
Jawaban : Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif karena sudah melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 angkah tersebut, walaupun saya juga harus tetap beajar dan sharing kepada teman sejawat yang sudah berpengalaman untuk memastikan keputusan saya sesuai atau keputusan saya tersebut tepat. Saya juga merasakan mendapat pengetahun yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahn yang saya hadapi. 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? 
Jawaban : Menurut saya pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini saya merasa bahwa banyak hal atau keputusan yang saya buat selama ini tidak berdasar alur pemikiran yang jelas dan terstruktur, sehingga setelah mendapat materi di modul 3.1 mengenal bagaimana prinsip pengambilan keputusan yang tepat, pola pengambilan keputusan serta membedakan antara dilema etika dan bujukan moral serta penggunaan 9 langkah pengambilan keputusan, membuat saya semakin mantap dan percaya diri untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Walaupun saya harus lebih banyak lagi berlatih lagi dan belajar untuk melatih kemampuan pengambilan keputusan ini dan menerapkan ilmu yang sudah saya peroleh tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana orang-orang hebat mengambil keputusan yang tepat.
" "Ajal ada saatnya. Kesulitan bukan berarti harus kita sikapi dengan putus asa. Pastikan kita bisa mengenal diri dengan lebih baik, mengenal diri dengan lebih baik, mengenal kemampuan lebih maksimal. Jangan melakukan sesuatu tanpa tahu ilmu, tanpa tahu kebenaran, karena bisa jadi bumerang. Tidak usah memaksakan diri agar kelihatan lebih dari kenyataan yang sebenarnya."

Pengikut